Sekilas Info

Ambon Kota Musik Dunia, Krisis Ekologis dan Kelahiran Kembali

Salah satu agenda
besar yang ingin dicapai Pemerintah Daerah Kotamadya Ambon tahun ini adalah
mendapatkan penghargaan dari Unesco sebagai kota musik dunia. Agenda besar itu
ikut melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Keuangan,
Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), dan berbagai pihak. Bantuan milyaran rupiah
untuk membangun studio musik terbaik di Kotamadya Ambon adalah bukti keseriusan
itu.

Dalam pidatonya awal tahun tanggal 7 Maret 2018 di Ambon Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa Pemerintah Pusat menggelontorkan dana yang cukup besar untuk dunia pendidikan termasuk pendidikan musik. Harapannya, pelaku seni di Ambon dapat menciptakan ekosistem industri kreatif yang baik agar dapat bersaing di tingkat global dengan hasil yang gemilang dan terwujudnya Ambon sebagai kota musik dunia.

Pernyataan yang sama
juga disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Sri
Hartini saat membuka Amboina
International Bamboo Music Festival
di akhir tanggal 15 November 2018 bahwa
pemerintah mendukung penuh Ambon menjadi kota musik dunia.

Robin Malau salah
satu tim penggerak yang ikut membantu pemerintah mewujudkan Ambon sebagai kota
musik dunia memberikan pendapat untuk mengajak kita bersama-sama berpikir
tentang pengertian kota musik. Menurutnya, tantangan terbesar di Indonesia
adalah mendefenisikan kota musik. Alasannya karena semua orang memiliki
pandangan yang berbeda-beda - analoginya seperti tiga orang buta dan seekor
gajah.

Ditambahkan juga bahwa
Unesco mendefinisikan kota musik untuk kepentingannya, yaitu menjadikan musik
sebagai media untuk menjalankan Sustainable Development Goals (SDGs) dalam rangka mendukung program PBB yang harus dicapai di tahun 2030.

Definisi terakhir ini sangat menarik sehubungan dengan penetapan agenda pembangunan berkelanjutan atau SDGs sebagai kesepakatan pembangunan global. Mengapa menarik ? karena beberapa pandangan yang disampaikan dalam dokumen SDGs di point: (11) pembangun kota-kota serta pemukiman yang berkualitas, aman dan berkelanjutan, (13) bertindak cepat untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya, (14) melestarikan dan menjaga keberlangsungan laut dan kehidupan sumber daya laut untuk perkembangan yang berkelanjutan, (15) melindungi, mengembalikan, dan meningkatkan keberlangsungan pemakaian ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, mengurangi tanah tandus serta tukar guling tanah, sudah merupakan DNA masyarakat Ambon pramodern.

Begitu juga prinsip nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan serta kepedulian demi keselamatan di bumi sebagaimana yang diserukan banyak negara di dunia dalam point-point SDGssudah mengalir berabad-abad lamanya dalam urat nadi masyarakat Ambon pramodern.

Bahasa-bahasa tanah tentang pentingnya menjalin hubungan harmonis dengan komis sebagaimana tersirat dalam point-point di atas yang dilandasi prinsip nilai-nilai itu kerap disenandungkan suara-suara vokal laki-laki dan perempuan diiringi tiva dalam ritus-ritus adat masyarakat Ambon pramodern.

Menariknya lagi, suara-suara vokal laki-laki dan perempuan diiringi tifa memiliki ciri khas yang unik dan berbeda dengan daerah-daerah di Nusantara juga pemahaman musik diatonis barat.

Kematian Kecil

Etnomusikolog Rizaldi Siagian menjelaskan bahwa orang Indonesia memiliki konsep imajiner. Penjelasan ini merujuk pada pemikiran Benedict Anderson dalam  Immagined Communities.

Konsep imajiner artinya bahwa di seluruh Nusantara setiap suku bangsa punya konsep yang berbeda-beda terhadap fenomena susunan bunyi. Secara implisit, Rizaldi ingin menjelaskan bahwa fenomena susunan bunyi di seluruh Nusantara tidak dapat dikatakan sebagai musik sebab tidak memiliki pola diatonis sebagaimana musik barat.

Pandangan sama dari Suka
Hardjana dalam Musik Kontemporer Dulu dan Kini menjelaskan bahwa sesuatu
dianggap sepenuh-penuhnya memenuhi syarat sebagai musik bila memliki berbagai
norma kriteria seperti : bentuk, nada-nada, ritme, melodi, harmoni dan lain
sebagainya.

Dengan demikian suara-suara vokal diiringi tiva dalam masyarakat Ambon pramodern bukanlah musik karena tidak melekat norma-norma kriteria itu. Suara-suara vokal terdengar sangat fals artinya tidak sesuai diatonis barat (baca : do, re, mi, dst). Sebagai contohnya kita bisa mendengar pada video di link ini : https://youtu.be/Iyv-7NuAYPA, https://youtu.be/Oop9MJ2ms9M.

Kini suara-suara vokal dan alat-alat musik lokal seperti suling bambu, totobuang dan tahuri atau korno disesuaikan mengikuti pola diatonis barat.Di berbagai kesempatan alat-alat musik lokal ini sering berkolaborasi dengan terompet, keyboard, gitar mengiringi para musisi Ambon menghasilkan karya-karya musik bergaya lokal, sebagai  contohnya: https://youtu.be/GUMEfWxKU5M, https://youtu.be/m0r5PK6Wos0, https://youtu.be/bsDRLW7ABj4.

Kuatnya pengaruh
musik diatonis barat dalam ruang berkesenian masyarakat kita hari ini perlahan-lahan
meredupkan fenomena bunyi (baca: nada-nada non diatonis) dari suara-suara vokal
laki-laki dan perempuan diiringi tiva. Kenyataan pahit yang harus terima saat
ini adalah jumlah orang yang bisa membawakan dan peminat semakin hari kian
berkurang. Ini sama artinya semakin berkurang penyebaran local knowledge dan penerapan prinsip nilai-nilai kebersamaan,
persaudaraan serta kepedulianpada
generasi sekarang.

Berharap Kelahiran Kembali

Pemusik dunia Hazrat Inayat Khan dalam The Mysticism Of Sound And Music menyebutkan
perbuatan dan gerakan yang dibuat dunia yang kasat dan tak kasat mata semua
bersifat musikal. Ketika orang melihat kosmos, gerakan bintang dan planet,
hukum vibrasi dan ritme – semuanya sempurna dan tidak berubah, semua itu
menunjukkan bahwa sistem kosmis bekerja dengan hukum musik.

Pemikiran
Hazrat sama sebagaimana mentalitie masyarakat
Ambon pramodern. Mentalitie yang berisi
pengalaman epistemik tentang keteraturan irama kosmis. Dilestarikan dari satu
generasi ke generasi berikutnya melalui mata pencaharian, sistem teknologi dan
kesenian mereka.

Satu
contoh konkret, konsep konservasi sumber daya alam pada sasi atau meti laut dalam
masyarakat ini. Sistem pengolahan dan pemanfaatan sumber daya alam di laut dilakukan
sesuai dengan siklus perkembangbiakan biota laut yang sudah terpola secara
teratur - alamiah. Teknologi yang digunakan menyatu “seirama”mengikuti
proses-proses alamiah itu – lingkungan abiotik laut tidak dirusaki supaya
proses-proses alamiah itu tidak terganggu.

Senandung
suara-suara vokal laki-laki dan perempuan diiringi tiva memperagakan dengan sangat
indah dan apik pengalaman epistemik itu. Kita dapat menyaksikannya dalam
pertunjukan penangkapan ikan secara tradisional saat meti terjadi. Nampak berbagai
aktivitas kehidupan bergerak bersama-sama mengikuti keteraturan irama kosmis. Atau
dengan kalimat lain mata pencaharian, sistem teknologi dan kesenian mereka merupakan
gambaran dari musik komis dalam skala kecil.

Dalam konteks
kekinian, desain pembangunan sebuah wilayah menjadi perkotaan modern kerap kali
tidak mengikuti keteraturan irama kosmis. Kesalahan mendesain inilah sebagai
salah satu pemicu munculnya krisis ekologis di banyak tempat di dunia termasuk
Ambon. Salah satu dampak dari krisis ekologis yang kini menghantui banyak
negara adalah naiknya permukaan air laut. Ancaman besar ini diprediksi akan menenggelamkan
sebagian wilayah di seluruh dunia termasuk Ambon dan sekitarnya beberapa tahun
mendatang.

Berpijak
dari masalah-masalah krisis ekologis yang memprihatinkan saat ini dan tentunya
akan mengancam kehidupan di bumi maka idealnya sebuah kota musik pun harus di desain
selaras dengan keteraturan irama kosmis sebagaimana mentalitie masyarakat Ambon pramodern dan sebagaimana juga seruan
dalam point dokumen SDGs. Karena bukankah dari ujung timur Indonesia nenek
moyang kita telah menyenandungkan pengalaman epistemik mereka dalam musik
esoterik yang begitu indah dan apik bahwa keselarasan
sikap hidup dengan kosmis juga musik ?

Akhir kata, di antara kebisingan ekonomi pasar, para petarung kapital, sikap individualistik, para pemuja tubuh dan penjilat kekuasaann yang begitu ganas menggerogoti sendi kehidupan umat manusia abad ini. Satu pengharapan besar yang dinantikan terjadi kelahiran kembali di sana.

Penulis: Julius Russel, Etnomusikolog - Alumnus Institut Kesenian Jakarta

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!