Sekilas Info

Selamat Natal Basudara Sarane di Maluku, Katong Tetap Satu Gandong

Momentum dimana remaja masjid yang mengamankan jalannya ibadah Malam Natal di Gereja Silo Ambon. Mereka juga menyambut para jemaat yang baru selesai beribadah, Senin (24/12/2018). (foto: kumparan.com)

satumalukuID – Natal selalu menjadi momentum sukacita
yang dinantikan seluruh umat Kristen. Dan, cuma di Maluku, suasana Natal itu
sangat terasa hikmatnya. Bukan karena Natal bisa disambut dengan berbagai
kreasi sejak bulan Desember tiba, tetapi cuma di Maluku, suasana Natal selalu
mengekspresikan nilai persaudaraan.

Sejak dulu, orang Maluku tumbuh dan berkembang dalam
keragaman. Tetapi nilai-nilai adat yang ditanamkan para leluhur selalu
merekatkan masyarakat Maluku yang beragam itu dalam kekeluargaan.

Jauh hari sebelum kebiasaan saling menjaga rumah
ibadah menjadi tren di kalangan masyarakat Indonesia, di Maluku kebiasaan itu
malah sudah dimulai sejak membangun rumah ibadah. Sudah menjadi hal yang lazim,
jika saat membangun rumah ibadah, basudara Pela Gandong baik yang beragama
Kristen maupun Islam akan saling membantu.

Bantuan yag diberikan bisa dengan cara menyumbang
tenaga untuk sama-sama bekerja membangun rumah ibadah, atau juga dengan
menyumbang natura untuk keperluan tersebut. Tak pernah terdengar basudara gandong
mengeluh saat dimintai bantuan membangun rumah ibadah. Yang ada malah rasa
sukacita. Apalagi jika satu negeri diajak mengunjugi gandong mereka di negeri
lain.

Maluku memang unik. Kalau menurut istilah Gubernur
Maluku Said Assagaff, orang Kristen dan orang Islam di Maluku sangat mencintai
agama mereka masing-masing. Tetapi di saat yang sama, sejak dulu kala, orang
Maluku sudah diajari leluhurnya untuk menghargai perbedaan agama di diantara mereka.

Dulu, sesama kawan akan saling mengingatkan jika
saatnya sholat Jumat atau ibadah hari Minggu. Bahkan, sejak anak-anak mereka
sudah terbiasa saling mengingatkan saat waktu pengajian atau sekolah minggu.
Bahkan tak segan orang-orang tua mereka akan marah jika anak-anak tidak mengikuti
pengajian atau sekolah minggu.

Sayangnya, terkadang karena rasa cinta yang besar
terhadap agama, orang Maluku gampang terpengaruh ketika isu agama dimainkan.
Tetapi keterpurukan akibat konflik lalu menyadarkan mereka.

Sekarang, mayoritas orang Maluku sudah sadar. Secara
agama memang ada nilai-nilai akidah yang tak bisa disatukan. Namun dalam hidup
bermasyarakat, mereka mempersatukan keragaman dalam falsafah hidup orang
basudara yang merupakan warisan adat Pela Gandong.

Di momentum Natal 2018  kali ini, indahnya hubungan orang basudara
diwujudkan orang-orang Maluku. Ketika, basudara Kristen sedang menjalankan
ibadah basudara muslim bersama unsur masyarakat lain dan aparat keamanan
menjaga keamanan ibadah.

Kali ini, Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid
Indonesia (BKPRMI) Maluku ikut mengamankan jalannya misa dan ibadah malam Natal
di sejumlah gereja yang berada di pusat Kota Ambon, Senin malam (24/12/2018). Para
remaja masjid tersebut tampak berdiri di depan gereja dengan mengenakan baju
koko beserta kopiah.

Ada empat gereja yang menjadi prioritas pengamanan
pada malam natal kali ini, yakni Gereja Silo, Maranatha, Rehoboth, dan Gereja
Katedral. Tak hanya sekadar mengamankan jalannya
ibadah Natal, mereka itu juga ikut mengatur arus lalu lintas di sekitar kawasan
gereja.

Ketua BKPRMI Maluku, Zulkifli Lestaluhu, mengatakan
bahwa dalam rangka mengamankan jalannya misa dan ibadah malam Natal, pihaknya
mengerahkan puluhan pengurus beserta anggota remaja masjid untuk turut
berpartisipasi.

Pengamanan ibadah Natal, kata dia, sudah
berlangsung sejak tahun 2010. Apa yang dilakukan pihaknya merupakan tanggung
jawab pemuda muslim Maluku dalam memberikan kenyamanan kepada umat kristiani
yang tengah menjalankan Natal.

“Ini sudah menjadi tradisi kita di Ambon sejak
2010. Ini bentuk tanggung jawab kita dalam menjaga toleransi antarumat beragama
di Maluku," ujar Zulkifli.

Menurutnya, pengamanan tidak hanya dilaksanakan
pada saat ibadah malam tanggal 24 Desember saja. Namun, juga dilakukan saat
ibadah siang tepat pada tanggal 25 Desember.

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Jemaat GPM Silo,
Penatua J.T.H.M. Sipahelut, mengungkapkan bahwa kegiatan pengamanan yang
dilakukan oleh warga muslim Ambon tersebut merupakan bentuk menjaga toleransi
antarumat beragama di Maluku.

Dia mengakui, kegiatan pengamanan tersebut telah
menjadi sebuah tradisi, baik bagi kalangan muslim maupun kristiani. Sebab, saat
Idul Fitri, pemuda Kristen pun melakukan hal serupa.

"Kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan atau
tradisi dari warga muslim, Hindu, Budha, dan unsur masyarakat lainnya yang
bersama dengan aparat keamanan dalam menjaga keamanan ibadah. Kegiatan ini juga
dilakukan oleh pemuda gereja pasca ibadah Idul Fitri dan ibadah dari komponen
agama lainnya," ungkapnya.

Hal tersebut dinilai penting karena merupakan
kepedulian semua warga untuk menjaga keamanan dan kenyamanan seluruh umat
beragama yang menjalankan hari besarnya.

Dia juga menyampaikan pesan agar kearifan lokal dan
tradisi itu bisa dijaga, sehingga menjadi perekat hubungan antarsesama yang
harmonis.

"Beginilah keharmonisan antar
umat beragama yang sangat baik di Maluku. Tradisi ini sudah menjadi satu budaya
kearifan lokal dan menjadi perekat untuk mempersatukan kita antar umat beragama
di Maluku, sehingga harus tetap dipertahankan," ujarnya.

Tak hanya di kehidupan nyata. Di berbagai media social,
baik facebook maupun twitter, terlihat banyak basudara muslim yang menyampaikan
ucapan selamat Natal kepada basudara Sarane (Kristen) di Maluku. Ucapan selamat
Natal itu ditulis dengan kata-kata maupun dengan gambar yang memuat foto
mereka.

“Selamat Natal Basudara Sarane di Maluku. Katong boleh
beda agama, tapi tetap satu gandong,”  begitu
ekspresi persaudaraan yang ditulis salah satu pemuda muslim Maluku di akun
facebook miliknya. (petra josua)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!