Sekilas Info

Ketika Anak-anak SMP Saparua Memaknai Isu Kekerasan Seksual

satumalukuID - Siang itu cukup terik, namun puluhan siswa sekolah menengah pertama dari Kecamatan Saparua dan Saparua Timur, terlihat penuh semangat mendatangi Kantor Klasis Saparua di Negeri Tiouw, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah pada Sabtu, (8/12/2018) pekan lalu.

Beberapa diantara mereka terlihat menyeka keringat ketika menaiki anak tangga menuju aula. Di tempat ini, mereka akan mengikuti lomba Majalah Dinding (Mading). Sedikitnya 14 tim dari tujuh SMP yang ada di Pulau Saparua, mengikuti lomba masing tingkat SMP di Kecamatan Saparua dan Kecamatan Saparua Timur.

Tema pada lomba kali ini berbeda dari biasanya, isu kekerasan seksual sengaja diangkat sebagai tema supaya para siswa bisa paham bagaimana mencegah kekerasan seksual. Apalagi usia mereka rentan jadi korban kekerasan seksual.

Setelah mendapat gambaran singkat dari jurnalis senior Harian Suara Maluku, Embong Salampessy dan Direktur Yayasan Gasira Maluku, Lies Marantika, selaku juri, puluhan anak-anak tersebut lantas sibuk menggunting, melipat dan menempel kertas.

Sebagian peserta mengaku, baru pertama kalinya membuat majalah dinding. Meski begitu, mereka sangat optimis hasil karya yang dibuat bakal unggul dalam lomba itu. Waktu dua jam yang diberikan oleh dewan juri, mereka manfaatkan sebaik mungkin.

Saat sesi presentasi, perwakilan masing-masing tim juga berusaha tampil maksimal. Mereka rata-rata menampilkan kemampuan bertutur dengan baik. Ada yang memadukan dengan gaya bak orang sedang ber-stand up comedy. Ada yang tampil bak orator. Tapi ada juga yang sempat menguras air mata, ketika memaparkan contoh kasus kekerasan, lantaran mengenang kekerasan dalam rumah tangga yang dialami sang ibu.

Direktur Yayasan Gasira Maluku, Lies Marantika, mengaku bangga hasil sosialisasi yang dilakukan pihaknya, sebelum lomba mading ini digelar membawa hasil positif. Terbukti, anak usia SMP di wilayah Kecamatan Saparua dan Kecamatan Saparua Timur, yang pernah menjadi peserta workshop pun mulai memahami dan tahu cara menangkal isu-isu kekerasan seksual terhadap remaja.

"Saya sangat bangga melihat hasil karya saat lomba berlangsung. Mereka para peserta sudah paham dengan baik mengenai bahaya kekerasan seksual terhadap remaja, sehingga dalam isi Mading tersebut mereka memaparkan bagaiman cara-cara untuk mengantisipasi hal tersebut," ungkapnya.

Lies katakan, lomba yang diikuti oleh 14 tim dari tujuh SMP tersebut, secara tidak langsung turut mengajak dan mendorong para siswa menjadi agen pencegah kekerasan seksual.

"Dari hasil kegiatan hari ini, kami melihat potensi-potensi lain yang ada pada para siswa, mereka tidak hanya pandai membuat Madung, namun juga mampu bertutur dengan baik. Termasuk membuat puisi dan pantun tentang isu-isu kekerasan seksual terhadap remaja, maupun perempuan," ujarnya.

Dia mengungkapkan, kegiatan lomba tersebut direncanakan akan menjadi agenda tahunan, agar para siswa terus termotivasi untuk lebih kreatif dalam dunia literasi.

Lies serta Embong Salampessy berharap, agar kegiatan ini dapat diadakan lagi tahun depan. Dengan konsep yang sedikit berbeda.

"Jika saat ini kami selenggarakan di luar sekolah, ke depannya kami berencana akan langsung selenggarakan di sekolah mereka masing-masing. Mungkin akan diawali dengan workshop, lalu masing-masing sekolah akan membuat Mading yang akan dipajang di sekolah masing-masing. Selain untuk dilombakan, Mading tersebut tersebut bisa juga menjadi referensi ilmu bagi para siswa yang membacanya," tuturnya.

Kegiatan lomba Mading ini sendiri, disebut Lies, sengaja digelar supaya menambah pengetahuan dengan begitu kesadaran para siswa dan siswi terkait masalah kekerasan seksual semakin bertambah.

"Kami juga berharap kegiatan ini dapat mendorong para siswa dan siswi menjadi agen pencegahan kekerasan seksual di sekolah dan masyarakat, dengan cara yang kreatif," ungkapnya.

Berangkat dari fakta kekerasan seksual yang semakin meningkat, pada bulan oktober 2018, Gasira melaksanakan kegiatan pelatihan pendidikan seks bagi para guru se-Kecamatan Saparua dan Saparua Timur, dengan tujuan agar guru memiliki kompetensi dalam memberikan pengetahuan tentang pendidikan seks bagi para siswa dan siswi di sekolah.

"Berkaitan dengan membangun pemahaman tentang kekerasan seksual, maka Gasira dalam rangka 16 HKTP kami telah melakukan kegiatan Workshop tentang kekerasan seksual remaja di Pulau-pulau Lease, Rabu (21/11/18)," tandasnya. (tiara salampessy)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!