Sekilas Info

Prestasi Timnas, Kenang Bertje Matulapelwa Si Pelatih Lokal Tersukses

Bertje Matulapelwa merangkul kedua anak asuh sesuai bertanding. foto kompas

satumalukuID - SEPAKBOLA Indonesia kini lagi masuk periode buruk. Prestasi tim nasional (timnas) senior Indonesia anjlok. Di Piala AFF yang belum lama ini selesai putaran grup, Indonesia cuma mampu di posisi ke empat. Main empat kali, hanya menang sekali, draw sekali, kalah dua kali.

Pemilihan pelatih Bima Sakti gantikan Luis Milla hanya dua pekan jelang Piala AFF jadi tudingan salah satu penyebabnya. Selain tentunya masalah pembayaran gaji juru taktik asal Spanyol yang eks skuat Barcelona dan Real Madrid serta mantan pelatih timnas U-21 Spanyol itu sehingga dia tidak mau perpanjang kontrak, dengan mengkiritik PSSI tidak profesional.

Padahal di tangan Luis Milla meskipun tidak penuhi target semiinal, namun timnas Indonesia sempat lolos hingga ke perempatfinal atau 8 Besar cabang olahraga sepakbola di Asian Games 2018.

Belum lagi masalah rangkap jabatan Ketua Umum PSSI Eddy Rahmayadi yang kini menjadi Gubernur Sumatera Utara, sehingga "nahkoda" PSSI harus dikontrol jarak jauh. Plus kontroversi beberapa komentar sang ketua yang kontradiktif.

Yang terkini, dugaan kompetisi indonesia dilanda pengaturan skor atau match fixing, bahkan berhembus kabar juga melanda timnas senior. Benarkah? Walahualam. Kontroversi dan polemik tak habis-habis melanda persepakbolaan Indonesia kini.

Akibatnya, malah lebih ramai pengurus PSSI berargumen, daripada seriusi bagaimana mengangkat prestasi timnas senior yang harusnya disadari merupakan ujung dari hasil pembinaan dan produk kompetisi rutin yang profesional.

Bicara prestasi timnas senior Indonesia. Tentunya mengalami penurunan jauh. Kalau di masa 1950 an sampai 1990 an, timnas senior Indonesia sangat disegani di kawasan Asia Tenggara bahkan Asia. Kini kurang diperhitungkan lantaran tidak konsisten dalam permainan maupun prestasi, labil.

Nah, kalau kita simak kiprah dan prestasi timnas senior Indonesia di berbagai ajang resmi maupun kejuaraan terbuka internasional. Tentunya patokan kita mengarah pada SEA Games atau pesta olahraga negara-negara di Asia Tenggara maupun Asian Games untuk level Asia keseluruhan.

Bila acuannya SEA Games. Maka tak bisa mengelak, ingatan dan memori kita harus mengarah pada sosok pelatih kelahiran Ambon-Maluku 1 Januari 1941 yang berpembawaan tenang namun kerjanya sukses.

Siapakah sosok itu? Dialah almarhum Bertje Matulapelwa. Sang pelatih timnas senior Indonesia di era periode 1985-1987. Bertje adalah pelatih asli Indonesia tersukses dibanding pelatih lokal bahkan asing sekalipun terkecuali oleh Toni Poganik asal Yugoslavia dan Anatoli Polosin dari Rusia sesuai dengan referensi dari berbagai sumber.

Prestasi timnas di tangan Toni Poganik adalah yang terbaik sepanjang sejarah. Pasalnya, Poganik mampu membawa Indonesia merebut medali perunggu cabang sepakbola Asian Games 1958 di Tokyo dan melaju sampai perempatfinal Olimpiade Melbeourne 1956, setelah sempat menahan raksasa Eropa yakni Uni Soviet (Rusia) 0-0, namun di partai kedua Rusia menang 4-0.

Sedangkan prestasi Anatoli Polosin adalah ketika berhasil mengantarkan Ferrel Raymond Hattu dkk merebut medali emas cabang sepakbola SEA Games 1991 di Filipina. Emas itu merupakan untuk kedua kalinya timnas Indonesia mampu meraihnya.

Lalu apa kesuksesan Bertje Matulapelwa sebagai pelatih Indonesia yang paling berhasil dalam sejarah prestasi timnas binaan PSSI ?

Tanpa diketahui banyak orang. Mantan pemain klub amatir Pusparagam Ambon dan timnas di era 1960 an ini, adalah pelatih yang mampu membawa Indonesia untuk pertama kalinya meraih medali emas sepakbola di SEA Games 1987.

Saat itu, timnas Indonesia di penyisihan satu grup bersama Thailand dan Brunei. Hasilnya, Indonesia mengalahkan Brunei 2-0 dan mampu menahan imbang Thailand 0-0. Thailand juara grup karena menang selisih gol atas Indonesia setelah sikat Brunei 3-1.

Di semifinal, Indonesia ketemu Burma (sekarang Myanmar). Anak asuhan Bertje Matulapelwa ini mampu hantam Burma 4-1 dan lolos ke final. Sementara Thailand dikalahkan Malaysia 1-2. Maka partai final terjadi antara Indonesia vs Malaysia. Di partai puncak Ricky Yacob dkk sukses kalahkan Malaysia 1-0 dan emas sepakbola bersejarah pertama terwujudlah oleh Bertje Matulapelwa.

Sebelumnya, tangan dingin Bertje Matulapelwa juga sudah berbuah hasil di level lebih tinggi yakni Asian Games 1986 di Seoul Korsel.

Ketika itu, Indonesia harus berduel dengan tim-tim raksasa sepakbola Asia yang sudah sering main di Piala Dunia. Di partai penyisihan pertama Indonesia sukses kalahkan Qatar 1-0. Main partai kedua kalah 0-2 dari Arab Saudi dan di pertandingan ketiga menang 1-0 atas Malaysia.

Anak-anak asuhan Bertje Matulapelwa pun lolos ke perempatfinal atau 8 Besar sebagai runner up grup. Di perempatfinal Indonesia ketemu Uni Emirat Arab (UEA). Hasilnya ? Diluardugaan Ricky Yakobi, Herry Kiswanto dkk mampu kandaskan UEA dengan skor tipis 3-2.

Namun sayangnya, di semifinal penentuan ke final, Indonesia ketemu tuan rumah sekaligus tim raksasa Asia, Korea Selatan. Pasukan Bertje Matulapelwa kalah 0-5 dan gagal ke final. Di partai perebutan medali perunggu lawan Kuwait, Indonesia juga kalah sehingga hanya menempati posisi keempat.

Meski demikian patut diacungi jempol atas capaian prestasi di Asian Games tersebut. Sebab, ketika itu karier Bertje Matulapelwa sebagai pelatih kepala di timnas baru berbilang bulan.

Dia yang sebelumnya berstatus asisten pelatih, ditunjuk PSSI menggantikan sang pelatih kepala, Sinyo Aliandroe yang diberhentikan lantaran disebut gagal membawa timnas masuk ke fase kualifikasi Piala Dunia 1986.

Kepercayaan PSSI waktu itu kepada Bertje Matulapelwa menjadi pelatih bukan tanpa pertimbangan. Terkenal sebagai pelatih yang taktis dalam perhitungan statistik sebuah pertandingan, merupakan keunggulan pelatih kelahiran Ambon-Maluku 1941 tersebut.
Tim Merah Putih di tangan Bertje, sebulan sebelum Asian Games 1986 digelar di Seoul, sempat melakukan uji coba lebih dari sebulan di negerinya timnas Samba Brasil.

Kesuksesan Bertje Matulapelwa di dua even resmi multi cabang itu, sampai kini tidak bisa disamai oleh pelatih-pelatih hebat asli Indonesia lainnya yang pernah punya prestasi saat melatih timnas senior seperti Endang Witarsa, opa EA Mangindaan, Danuwindo maupun Nandar Iskandar dan lainnya.

Lantaran selain sukses di SEA Games dan Asian Games, Bertje Matulapelwa juga sempat membuat Indonesia juara di Piala Kemerdekaan 1987 setelah mengalahkan Irak.

Karier dan kiprah Bertje Matulapelwa sebagai pelatih bukan saja di timnas Indonesia. Pasalnya, dia juga sukses menangani beberapa klub perserikatan maupun semi profesional seperti saat Galatama (Liga Sepakbila Utama) hingga Ligina (Liga Indonesia) sebagai kompetisi profesional.
Diantaranya pernah melatih klub elit di jaman Galatama dan Ligina yakni Pelita Jaya, Persegres Gresik, PSIM Yogyakarta, PS BPD Jateng dan Pelita Bakrie.

Pelatih asli Indonesia tersukses di timnas senior yang memulai karier dari Lapangan Merdeka Ambon ini, meninggal pada 9 Juli 2002 di usia 61 tahun.

Bertje Matulapelwa memang sudah tiada. Namun kiprah dan prestasinya dicatat dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Dikenang tenang, tak suka bicara banyak, tapi bekerja banyak demi prestasi terbaik bangsa ini.

Figur dan kepribadian seperti Bertje Matulapelwa inilah yang patut jadi contoh dan panutan bagi pengurus PSSI dan pelatih lokal. Sehingga sepakbola Indonesia bukan ramai karena kontroversi, kontradiksi, polemik dan hingar bingar komentar di media massa maupun media sosial, namun ramai dibicarakan karena prestasi dan pembinaan serta kompetisi yang profesional. Introspeksi lah PSSI. Semoga!

Penulis: Novi Pinontoan, Ambon

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!