Sekilas Info

Natasia Malaihollo; Lahir di Ambon, Mendunia dengan Startup Wyzerr di Amerika

Sempat mencoba beberapa platform untuk mengumpulkan beberapa umpan balik untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan pelanggan di startup pertamanya tersebut, namun Tasia mengaku bahwa dirinya tidak puas dengan apa yang disajikannya. Dari situ ia bertekad untuk membangun sebuah sistem survei yang menyenangkan, terlihat seperti sebuah games.

satumaluku.id- Surat kabar berpengaruh di Amerika Serikat, USA Today pada edisi 27 Juni 2017 menampilkan foto Natasia Malaihollo di halaman depan section Money. Saat itu surat kabar bertiras besar di Amerika itu tengah membahas cerita bisnis dari para pebisnis muda di Amerika yang menggeluti startup atau usaha rintisan digital.

Natasia Malaihollo oleh USA Today ditulis sebagai pendiri dan CEO Wyzerr, sebuah startup yang memberikan layanan berupa enterprise-level market research untuk semua kalangan yang membutuhkan, baik bisnis ataupun personal. Dengan memanfaatkan keandalan Artificial Intelligence (AI), Wyzerr dinilai mampu melakukan tugas dan analisis mendalam yang umumnya sulit dilakukan secara manual.

Ketika berita tentang Natasia Malaihollo terbit di USA Today, ibunya memposting foto surat kabar tersebut di akun Facebook disertai tulisan dalam Bahasa Inggris yang diterjemahkan begini, “Puji Tuhan, dia gadis kecil datang dari kota kecil,  Ambon.. Atas pertolongan Tuhan,, Natasia menjadi seseorang di negara besar ini. Pesan untuk semua anak-anak muda dimanapun kamu berada, selalu bermimpi besar, berdoa minta bimbingan Tuhan dan bekerja keraslah  Kamu bisa melakukannya.”

Siapa Natasia Malaihollo? Ternyata dia asli anak Ambon, Maluku. Tasia, begitu panggilannya, lahir di kota Ambon dari pasangan almarhum Ronny Malaihollo dan Jeane Ansye Malaihollo/Loppies.

Ayahnya merupakan ponakan dari pengusaha minyak almarhum John Malaihollo. Sedangkan ibunya yang biasa disapa Ansye, dulunya pernah mengenyam pendidikan di SMA Xaverius Ambon dan Universitas Pattimura, tinggal di dekat kantor agama di Air Salobar.

Saat kecil, Tasia bersama kakak dan adiknya mengikuti kedua orang tua merantau di Amerika Serikat, tepatnya di Southern California. Dia kemudian kuliah di Berkeley mengambil spesialisasi hukum dan sempat bekerja di beberapa firma hukum dengan berbagai jabatan. Pada akhirnya Tasia merasa dirinya lebih cocok untuk menjadi seorang pengusaha di indutsri digital.

DailySocial.id, portal berita startup dan inovasi teknologi di Indonesia, pada 2 November 2016 menceritakan,  Tasia mempelajari ilmu komputer sejak berada di bangku sekolah, meskipun ia tidak memilih jurusan tersebut pada kuliahnya. Saudara laki-lakinya kebetulan juga seorang insinyur di bidang komputer. Namun ia mengaku dorongan terbesar untuk mempelajari ilmu komputer justru karena yang ia sempat kuliah dan belajar di bidang hukum, fokusnya di bagian paten.

Melalui firma hukum yang sebelumnya menjadi tempat Natasia bernaung, ia seingkali melihat banyak inovasi dari kliennya di perusahaan teknologi, seperti Samsung dan IBM. Dari situ ia terus mengasah kemampuannya, dan terus belajar secara mandiri dan praktik terkait dengan pengembangan produk dan inovasi digital.

Tidak Instan

Wyzerr yang telah memiliki klien-klien rakasasa bisnis dunia ini nyatanya bukanlah sebuah proses yang instan. Tasia memulai Wyzerr sekitar 2014 setelah perusahaan teknologi yang pertama dirintis mengalami kegagalan. Kejelian memberikan inspirasi sekaligus semangat kepada Tasia untuk bangkit. Kegagalan tersebut berhasil menyadarkan bahwa ia tidak mengumpulkan berbagai umpan balik ketika perusahaan tersebut didirikan.

Sempat mencoba beberapa platform untuk mengumpulkan beberapa umpan balik untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan pelanggan di startup pertamanya tersebut, namun Tasia mengaku bahwa dirinya tidak puas dengan apa yang disajikannya. Dari situ ia bertekad untuk membangun sebuah sistem survei yang menyenangkan, terlihat seperti sebuah games.

“Otak platform kami adalah data umpan balik yang kami kumpulkan melalui gammified surveys. Semua survei Wyzerr bisa menangkap 25 pertanyaan tak lebih dari 60 detik,” ujar Tasia yang kini berusia 30 tahun.

Pada Juni 2011 ia a mendirikan Sooligan bersama rekannya Nikka Umil. Sooligan pada dasarnya mengusung sistem berbasis media sosial untuk menyuarakan berbagai kicauan terkait dengan aktivitas perkuliahan. Sebagai Co-Founder, di startup ini Tasia banyak mencurahkan pemikirannya untuk memimpin inovasi dan pengembangan produk. Namun tak jarang juga harus menyelaraskan kebutuhan operasional, mulai mendapatkan investor hingga strategi pemasaran.

Namun takdir berkata lain, pada Mei 2014 akhirnya Tasia tidak bisa melanjutkan Sooligan. Tak putus asa, bulan Juni 2014 Wyzerr terlahir menawarkan berbagai kemampuan untuk mendapatkan insight mendalam seputar umpan balik yang dibutuhkan untuk berbagai kepentingan.

“Ketika saya memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha, saya berpindah ke sebuah kota di mana startup pertama saya dilahirkan. Saya tinggal di Northwest Arkansas, New Orleans, New York, San Francisco. Dan sekarang (bersama Wyzerr) saya tinggal di Kentucky,” cerita Tasia tentang perjalanannya.

Di Wyzerr sebagai CEO, Tasia juga bertanggung jawab untuk menyelaraskan pengembangan teknologi pendukung survei umpan balik yang dipasarkan. Apa yang ia kerjakan didasarkan pada misi untuk membuat teknologi umpan balik yang digunakan dapat menyenangkan, cepat, tanggap dan mudah digunakan baik oleh responden ataupun perusahaan yang membutuhkan analisis data tersebut.

Saat ini Wyzerr juga telah tersedia untuk beberapa wilayah di Asia. Cita-citanya untuk melakukan ekspansi lebih luas masih terus diupayakan, dan tak menutup kemungkinan juga Indonesia akan menjadi salah satu tempat singgahnya. (*)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!