Sekilas Info

Sedang Diteliti Situs Lokki, Alang Asaude, Negeri Alaka, Ihamahu, Siri-Sori Islam, Kaitetu dan Morella

Salah satu lokasi Negeri Lama di Negeri Siri-sori Islam, Pulau Saparau yang ikut dijadikan pusat penelitian oleh Balai Arkeologi Maluku. Tampak sebuah batu dolmen di atas kuburan tua yang sering dilangsungkan ritual adat oleh warga setempat. Para tetua adat membaca doa kepada arwah para leluhur (foto : dok IPPMASSI Ambon)

satumaluku.id- Balai Arkeologi Maluku melakukan penelitian sebaran peninggalan budaya arkeologi di sejumlah situs negeri lama di Pulau Seram, Lease dan Ambon.

Penelitian arkeologi dipusatkan di empat wilayah yakni situs Lokki dan situs Alang Asaude( pulau Seram), negeri Alaka (pulau Haruku), negeri Ihamahu dan Siri-Sori Islam (pulau Saparua) serta negeri Kaitetu dan Morella, pulau Ambon

Koordinator penelitian Balai Arkeologi Maluku, Muhammad Al Mujabuddawat mengatakan, penelitian situs negeri lama di sejumlah pulau dilakukan selama 28 hari yang dimulai 18 Oktober hingga 10 November 2018.

"Selama 24 hari kita fokus melakukan pengumpulan data dan empat hari mempersiapkan laporan penelitian,” katanya saat Sosialisasi hasil penelitian arkeologi pulau Seram, Ambon, Haruku dan Saparua," ujarnya Rabu (14/11).

Dia mengatakan, penelitian ini bertujuan untuk meneliti sejumlah situs negeri lama, mengingat selama ini Balai Arkeologi Maluku baru sekedar mendata temuan di permukaan, sementara untuk rekonstruksi kehidupan masa lampau sendiri belum dilaksanakan.

“Kita mendata temuan karena untuk target capaian rekonstruksi utuh, pertama diperlukan denah untuk menelusuri jejak-jejak struktur batas wilayah, kluster pemukiman, pembagian fungsi, landscape fungsi, aspek ruangan sekaligus untuk faktor kehidupan di pemukiman juga bisa mendapat data,” paparnya.

Dia mengakui, tak bisa dipungkiri dari tujuh situs, ternyata beberapa diantaranya sulit dilacak seperti situs di Alaka pulau Haruku. Di Alaka sangat sakral dan terbatas dalam pengambilan data yakni di situs benteng, karena masyarakat setempat masih mengsakralkan sejumlah situs.

Selain di Alaka, yang menarik juga adalah situs benteng di negeri Ihamahu karena pemandangannya yang indah, agak miring tetapi tidak curam atau landai.

“Di puncak gunung juga ada pemukiman yang terlihat lutur-luturnya, tetapi sangat disayangkan ketika kami datang kondisinya sangat memprihatinkan, sehingga ketika diambil foto tidak jelas bentuknya, tetapi kami masih bisa telusuri melalui tracking GPS, ” ujarnya.

Mujabuddawat mengakui, temuan arkeologi di sejumlah situs masih lengkap, terutama di dusun Asaude ditemukan tiga situs yang masih sangat bagus, yakni di puncak gunung dan tepi pantai ada masjid kuno.

“Kami merujuk pada peta kuno (kart) dan lokasinya sesuai dengan bukti yang terstruktur, serta belum pernah didata sama sekali, yakni tebing tinggi masuk temuan baru karena dari bentuknya itu benteng pertahanan yang sangat tinggi serta ada balkon di sekeliling bukit yang terlihat untuk pertahanan,” tandasnya.

Sebaran peninggalan arkeologi purbakala di sejumlah lokasi di Seram, Haruku, Saparua dan Ambon berupa batu meja (dolmen), batu-batu berdiri (Menhir), susunan` batu perbentengan tradisional, gerabah, meriam serta nisan-nisan kuno yang terbuat dari batu (menhir). (*)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!