Sekilas Info

Negeri Bula, Geliat Sejarah Perminyakan Tanah Maluku

SUATU saat di bulan Mei 2018. Sebagai jurnalis, saya dan beberapa rekan mendapat kesempatan dari pihak SKK Migas Wilayah Timur dengan stakeholder nya di Ambon-Maluku yaitu Citic Seram Energy Limited dan Kalrez Petroleum Seram Limited untuk mengunjungi ladang minyak produksi mereka di kota Bula, Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku.

Perjalanan rombongan kami melalui darat diawali dari Kota Ambon Manise. Lantas menuju ke pelabuhan penyeberangan kapal ferry di Hunimua Liang, sebelah timur kota Ambon yang berjarak kurang lebih 40 kilometer. Untuk selanjutnya menyeberang lautan dengan kapal ferry ke pelabuhan Waipirit, Seram Bagian Barat di Pulau Seram yang dikenal dengan sebutan Nusa Ina.

Jarak tempuh dari pelabuhan Hunimua Liang Pulau Ambon ke Waipirit Pulau Seram, ditempuh dengan kapal ferry selama kurang lebih satu setengah jam. Dari pelabuhan Waipirit, rombongan kami para jurnalis dan staf Citic dan Kalrez juga SKK Migas wilayah timur, melanjutkan perjalanan panjang via darat menuju kota Bula, Seram Bagian Timur.

Perjalanan panjang yang melelahkan, namun penuh tantangan dan suasana yang alamiah yang mengagumkan serta tanggungjawab tugas jurnalistik lah yang membuat suasana jadi cair, santai, dan kelelahan pun tidak dipikirkan lagi.

Setelah beberapa jam. Sampai lah kami di kota Bula. Yang juga merupakan ibukota Seram Bagian Timur yang dimekarkan dari kabupaten induk Maluku Tengah beberapa tahun lalu. Sebelumnya, kota Bula dan sekitarnya hanyalah sebuah kota kecamatan dari Maluku Tengah.

Kota Bula meskipun dulu hanyalah sebuah desa dan kecamatan, namun tidak asing namanya dikenal terutama di kalangan perminyakan. Pasalnya, di Bula dan sekitarnya terdapat kandungan minyak bumi yang sudah dieksplorasi, dieksploitasi hingga diproduksi sejak jaman penjajahan Belanda, ratusan tahun lalu. Sejarah yang panjang memang.

Setibanya rombongan kami di Bula. Disitulah kami lebih melihat, mengenal dan mengetahui eksistensi perladangan minyak di sana. Bagaimana perusahaan perminyakan juga membaur dengan aktifitas masyarakat. Bula kini sudah maju pasca menjadi ibukota kabupaten SBT. Namun bukan berarti kandungan minyak dan eksisten perusahaan minyak di sana redup. Mereka tetap ada meskipun dari hari ke hari produksi minyak mentahnya menurun.

Perjuangan perusahaan minyak bertahan di sana patut diacungi jempol. Dari sejarahnya. Ladang minyak muncul ke permukaan di Bula dan sekitarnya pertama kali ditemukan tahun 1896 oleh Perusahaan Belanda bernama Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (Kufpec). Sedangkan Kalrez mulai beroperasi di Bula sejak tahun 1999. Mereka mengakuisisi Bula Block PSC, ladang minyak seluas 35 km2 itu dari Santos Limited.

Sedang ladang minyak lainnya yang ada di Bula berada di daratan agak tinggi. Sumur Oseil, namanya dikelola oleh Citic Seram Energy Limited (CSEL), dan merupakan pengembangan dari Bula Block PSC tersebut. Perusahaan asal Cina itu baru dua tahun menjadi operator lapangan minyak Bula Non Block PSC. Dan hingga kini Citic dan Kalrez masih beroperasi di ladang minyak Bula.

Tercatat hasil produksi minyak oleh Citic sebanyak 2000 barel per hari dan Kalrez sebanyak 270 barel per hari.

Tak sampai disitu saja untuk sekedar mengetahui sejarah Bula. Kami pun bersemangat untuk mengetahui dampak lingkungan dari keberdaan lokasi Kalrez yang berada di tengah perkampungan.

Lebih dekat lagi Kami melihat mesin-mesin surface well pump berdiri mengangkang di atasnya. Satu pompa untuk satu sumur. Mesin-mesin pompa itu bergerak pelan. Ia tampak letih, ber tahun-tahun digenjot untuk memompa minyak keluar dari perut bumi.

Dari surface well pump itu, minyak kemudian dialirkan melalui pipa-pipa mungil, yang sebagian juga sudah karatan. Lalu, minyak masih perlu disuling lagi, agar kadar airnya berkurang, sebelum dialirkan menuju tangki-tangki di dermaga Bula. Sumur-sumur tersebut dalamnya hingga 400-an meter.

Kami tercengang melihat kondisi perusahaan yang terlampau dekat dengan pemukiman masyarakat.

Merasa tak puas kami mencoba meminta penjelasan dari Field Production Operation Superintendent, Edy Mujiono tentang dampak dan kontribusi perusahaan bagi masyarakat dan daerah. Dengan ramah beliau mengajak kami ke ruang kerjanya sambil meneguk secangkir kopi manis. Beliau menjelaskan bahwa keberadaan Kalrez meskipun di tengah perkampungan tapi selama ini tidak pernah meresahkan masyarakat.

Bahkan selalu memberikan kontribusi melalui bantuan besiswa kepada pelajar yang ingin melanjutkan S3. Tapi, dirinya tidak pungkiri bahwa program itu belum sempat dilaksanakan karena terkendala pasokan produksi minyak yang terlampau kecil dan menurun. Maka, dana itu dialihkan untuk penyediaan asrama mahasiswa dan pelajar Bula di kota Ambon yang berlokasi di kawasan Poka Kecamatan Teluk Ambon bagi mahasiswa Universitas Pattimura (Unpatti) dan mahasiswa Universitas Darusallam (Unidar) di kawasan Galunggung Kecamatan Sirimau.

Selain itu beberapa kegiatan kesehatan seperti pengobatan masal dan sunatan masal juga di lakukan hampir setiap tahun.

Salah satu warga Bula yang bermukim di sekitar lokasi Kalrez Hana Hazan, mengaku pernah pipa milik Kalrez alami kebocoran tapi tak berlangsung lama, tim Perusahaan Kalrez langsung memperbaiki pipa yang bocor dan masyarakat hingga kini kembali beraktivitas secara baik.

Kepala Bagian Personalia Kalrez Petroleum Seram Limited, Abdullah Almahdali, tak sependapat dengan itu. Dikatakan, karyawan perusahaan itu sebagian besar berasal dari warga setempat. ”Perusahaan juga membantu menyekolahkan sejumlah anak untuk menempuh perguruan tinggi. Ditambah lagi bantuan listrik untuk sejumlah desa yang berada di dekat lokasi perusahaan,” katanya.

Field Operation Superintendent Kalrez Eddy Mudjiono juga tak memungkiri kontribusi dari perusahaan belum optimal. Hal itu juga dipicu produksi minyak di Bula tidak lagi banyak. ”Untuk bisa bertahan beroperasi di Bula saja sudah bagus,” katanya.

Sebaliknya pihak Citic Seram Energy Limited berdalih tak bisa memberikan keterangan tanpa seizin Badan Pengelola Minyak dan Gas (BP Migas). ”Kami hanya operator dari BP Migas, jadi keterangan harus seizin BP Migas,” ujar Bahrun, karyawan Citic.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten SBT Abdullah Kelilau yang sempat ditemui menegaskan peningkatan PAD Kabupaten SBT dari tahun ke tahun alami peningkatan. Sayangnya, peningkatan PAD itu tidak ada kaitannya dengan kerjasama dengan Citic dan Kalrez. Karena sistem yang diterapkan adalah bagi hasil dan tidak termasuk dalam PAD. Karena peningkatan ini adalah murni pendapatan asli daerah.

Perusahaan tambang di manapun, merupakan perusahaan dengan investasi besar dan risiko paling tinggi. Butuh manajemen yang piawai. Jika lalai saja, risiko lingkungan fisik maupun lingkungan sosial bisa terancam. Kekayaan sumber daya alam sebagai berkah, bisa berubah menjadi kutuk.

Beruntunglah, Manajemen Citic dan Kalrez, sejauh kunjungan kami ke Bula, memperlihatkan kinerja yang relatif baik. Artinya, kehadiran kedua perusahaan telah membawa berkah bagi perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Semoga Citic dan Kalrez sanggup mempertahankan reputasi baik ini. (*)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!