Sekilas Info

PESPARAWI 2015

Kemenangan Jati Diri Orang Maluku

SELAMAT  atas terpilihnya Kontingan Maluku sebagai  Juara Umum Pesparawi Nasional XI Tahun 2015. Terima kasih. Kerja keras dan mental juara Anda semua telah menaikkan harga diri kami sebagai orang Maluku. Tidak hanya yang berdiam di Maluku, tapi juga di berbagai tempat di seluruh dunia.

Kemenangan kontingen Pesparawi Maluku kali ini sudah sepatutnya diapresiasi. Ini merupakan berkah luar biasa. Apalagi diraih saat seluruh rakyat Maluku bertindak sebagai tuan rumah penyelenggara.

Bukankah faktor tuan rumah selalu memberikan keuntungan bagi tim lokal? Memang iya, kalau itu terjadi di ajang olahraga, terlebih sepakbola. Klub-klub sepakbola umumnya sudah memiliki pendukung fanatik dari berbagai lapisan usia dan latarbelakang sosial.

Tapi, ajang Pesparawi dan posisi Maluku sebagai tuan rumah, memiliki nilai berbeda. Pesparawi adalah ajang seni yang partisipannya kelompok kristiani. Dengan demikian, yang memiliki tiket untuk bertanding hanya orang kristiani Maluku.

Masalahnya, Maluku bukan hanya milik orang kristiani. Komposisi demografi Maluku menunjukkan keberimbangangan jumlah penduduk kristiani dengan muslim. Butuh effort luar biasa besar untuk menyatukan misi bersama.

Salut untuk pemerintah daerah dan semua stakeholder di Maluku yang telah mampu me-manage perbedaan menjadi kekuatan sebagai modal tuan rumah ajang Pesparawi.  Ini terlihat dari suasana penyambutan hingga kepulangan semua kontingen ke daerah masing-masing. Penyambutan masyarakat Batumerah (Hatukau) kepada peserta Pesparawi dengan kain gandong, telah mengirimkan pesan perdamaian dari tanah Maluku ke penjuru dunia.

Kemampuan conditioning inilah yang menjadi modal besar bagi kontingen Pesparawi Maluku. Mereka bertanding tanpa beban psikologis karena sadar harga diri seluruh masyarakat Maluku dipertaruhkan di pundak mereka.

Jadi, bersikap postif saja, jika masih ada anggapan keberhasilan yang diraih karena faktor tuan rumah. Sinisme itu bukan kiamat. Justru menjadi kekuatan karena merupakan bentuk  pengakuan atas keberhasilan masyarakat Maluku mengekspresikan rasa persatuan.  Itu juga berarti, mereka yang pesimis, secara tidak langsung telah mengakui betapa kuatnya kerukunan antar umat di tanah Maluku.

Mereka yang pesimistis itu tidak tahu bagaimana sulitnya bangkit dari keterpurukan. Mereka tidak tahu bagaimana sulitnya merajut kembali harga diri dan rasa optimisme.

Sebagai orang Maluku, keberhasilan meraih Juara Umum Pesparawi  sebaiknya dimaknai sebagai kemenangan meraih kembali  jati diri. Budaya saling menghargai dalam keberagaman dan  budaya Pela Gandong pernah mengalami krisis, bahkan pernah berada di titik nadir. Tapi itu semua sudah berlalu.

Gelar Juara Umum Pesparawi XI menjadi bukti momentum tranformasi orang  Maluku. Kemenangan tersebut makin menegaskan kualitas kompetitif orang Maluku. Cepat atau lambat, Maluku akan menjadi daerah primadona. Kita sudah membuktikan diri sebagai laboratorium perdamaian. Bahwa, orang maluku bisa mengabarkan kedamaian.  Kini saatnya membuktikan diri sebagai laboratorium pembangunan.

Bertransformasi menjadi masyarakat yang kompetitif bukan hal mudah. Tantangan nilai-nilai negatif masih mendominasi hidup bermasyarakat seperti budaya jalan pintas, konflik, saling curiga, mencela, mengedepankan otot, tidak tahu malu dan lain sebaginya.  Belum lagi budaya konsumtif yang akhirnya memicu terjadinya praktik korupsi.

Masih banyak orang yang berdebat dengan standar yang berbeda-beda dan begitu mudah marah bila kehendaknya tidak dipenuhi. Masih banyak yang suka menghujat dengan ukuran-ukuran yang tidak masuk akal.

Hal-hal negatif itu merupakan fenomena alamiah. Sudah kodrati, setiap perubahan selalu datang bersama sahabat-sahabatnya yaitu resistensi, penyangkalan dan kemarahan.

Yang bisa mengalahkan semua hal negatif itu, hanyalah dengan cara menghargai kehormatan diri. Orang yang menghargai kehormatan diri, otomatis menghargai nilai-nilai rohani dan budaya masyarakat.

Beruntungnya, sudah sejak jaman dulu, nenek moyang orang Maluku mewariskan nilai-nilai kehormatan tersebut lewat budaya Pela Gandong. Itulah yang perlu selalu diasah dan dipelihara sebagai jati diri orang Maluku. Gelar Juara Umum Pesparawi XI, adalah sebuah penghormatan terhadap budaya Pela Gandong di Maluku.  (*)

Penulis: NEVY HETHARIA, Diaspora Maluku di Jabodetabek

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!